
kontras.org
Tim Mawar di Pengadilan Militer | Keberadaan dan kegiatan Tim Mawar, selalu diasumsikan berdasarkan alasan politis, yaitu "mengamankan" aktivis atau orang yang dianggap membahayakan rezim Soeharto.
Seri Tokoh Intelijen
Sekarang ini sedang hangat dibahas Rancangan Undang-Undang Intelijen. Sebagai sumbangan pemikiran dan informasi latarbelakang (background information), maka Kanalinformasi menurunkan seri tokoh intelijen Indonesia (Seri ke-9).
JAKARTA | Setiap memperingati Peristiwa Mei 1998, salah satu yang kita ingat adalah soal keberadaan Tim Mawar, yang telah melakukan serangkaian penculikan. Ketika Reformasi bergulir, keberadaan tim ini mulai terkuak, dan langsung tamat riwayatnya. Jenderal Prabowo Subianto, figur yang seolah tak tersentuh di masa Orde Baru, ikut jatuh pula, salah satunya disebabkan keterkaitannya dengan Tim Mawar, yang memang dalam kendali Prabowo, saat menjabat Danjen Kopassus (1995-1998).
Satu hal yang mungkin luput dari perhatian kita, bahwa selama ini keberadaan dan kegiatan Tim Mawar, selalu diasumsikan berdasarkan alasan politis, yaitu "mengamankan" aktivis atau orang yang dianggap membahayakan rezim Soeharto. Asumsi itu mungkin benar adanya, setidaknya di tingkat kebijakan, namun dalam praktik di lapangan, asumsi itu tidak sepenuhnya berlaku. Benar, para anggota Tim Mawar dalam melaksanakan operasinya, pada akhirnya motivasinya adalah memburu bonus. Prabowo Subianto selaku Danjen Kopassus dikenal royal dalam soal keuangan, terlebih dalam operasi-operasi yang bersifat khusus, maksudnya yang langsung berkepentingan dengan dirinya.
Karena alasan memburu bonus itu pulalah, bisa saja terjadi kesalahan dalam memburu target, artinya asal tangkap saja. Salah satu figur yang sebenarnya tidak signifikan untuk diculik adalah Desmon J. Mahesa. Bila yang diculik adalah aktivis PRD, bisa dimaklumi, karena ideologi mereka yang "kiri". Dinas intelijen lain, dalam hal ini Detasemen Intelijen Kodam (Deninteldam) Jaya (Kramat V), juga mempertanyakan pilihan orang-orang yang diculik. Dalam pandangan pihak Deninteldam Jaya, bagaimana mungkin orang atau aktivis yang sebenarnya tidak layak culik, karena memang dianggap tidak membahayakan, masih diculik juga. Tentu ada motivasi lain bagi para pelaku di lapangan, dalam hal ini adalah bonus dari Letjen Prabowo Subianto.
Bila kita amati, perwira-perwira muda Kopassus, dari generasi 1990-an, yang dulu pernah masuk dalam Tim Mawar, karir mereka umumnya berjalan normal. Di antaranya ada yang pernah menjadi Dandim Tangerang, staf pribadi KSAD, bahkan ada yang sempat menjadi Komandan Kontingen Garuda di Lebanon. Fenomena pengangkatan perwira muda eks Tim Mawar, berdasar asumsi bahwa TNI (khususnya TNI AD) sedang menghadapi krisis kader perwira, dalam hal ini krisis perwira yang benar-benar berkualitas. Sehingga pimpinan TNI tidak mempersoalkan track record perwira tersebut, sehingga keterlibatannya dalam kasus pelanggaran HAM sering diabaikan.
Pos untuk Dandim Tangerang misalnya, adalah jabatan strategis, mengingat Tangerang adalah kawasan industri yang sangat penting (seperti halnya Bekasi). Keterangan ini sudah cukup menjelaskan, kualitas perwira macam apa yang pantas menjadi Dandim Tangerang. Demikian pula untuk penugasan sebagai Komandan Kontingen Garuda, sebuah penugasan internasional, sudah tentu ditunjuk perwira yang terbaik. Bila ditunjuk perwira kurang berkualitas, tentu nantinya akan memalukan TNI, juga pemerintah Indonesia. ***

